Sasuke's Mangekyō Sharingan

WELCOME TO MY BLOG

● WELCOME TO MY BLOG ● WELCOME TO MY BLOG ● WELCOME TO MY BLOG ● WELCOME TO MY BLOG ● WELCOME TO MY BLOG ● WELCOME TO MY BLOG ● WELCOME TO MY BLOG ● WELCOME TO MY BLOG ● WELCOME TO MY BLOG ●

Jumat, 21 Februari 2020

MEMBUAT POLA BINTANG PIRAMIDA DI CODE BLOCKS

MEMBUAT POLA BINTANG PIRAMIDA

Kali ini kita akan membuat program Pola Bintang Piramida Menggunakan Bahasa C di apikasi Codeblocks . Pola ini Mirip akan mirip dengan bentuk Pola Fibonacci . Langsung saja Ke Source Code Program nya : 

SOURCE CODE   :

#include <stdio.h>

 int main()
 {
    int a,b,d,n,flag=0;
    char input;

    printf("=======================================\n");
    printf(" MEMBUAT POLA BINTANG PIRAMIDA\n");


    tampil:
    printf("Masukkan Batas Bintang = ");
    scanf("%d", &n);
    printf("Hasilnya :\n");
        for(a=1; a<=n; a++)
        {
        for(b=n; b>=a; b--)
            {
            printf(" ");
            }
        int x=a+a-1;
        for(d=1; d<=x; d++)
            {
            printf("*");
            }
            printf("\n");
        }

    if(flag==0)
    {
        pilih:
        printf("\n");
        printf("apakah anda ingin mencoba lagi (y/t) : ");
        scanf("%s",&input);
        {
            if(input=='y')
                {
                goto tampil;
                }
            else if(input=='t')
                {
                printf("Terimakasih!!!");
                }
            else
                {
                printf("Anda Salah input. Selahkan tekan y/t");
                goto pilih;
                }
        }
    }
    return 0;
}


OUTPUT PROGRAM




















penjelasan

setelah kita memasukkan batas bintang nya maka hasilnya akan di tampilkan. dan untuk selanjutnya ada pilihan (y/t)? , kalau kita jawab "y" maka akan program akan di ulang. sedangkan untuk jawaban "t " membuat program berhenti.




Begitulah sedikit Informasi dari Saya ,apabila terjadi kesalahan atau kesilapan saya mohon maaf .  Terimakasih sudah datang dan membaca artikel saya . Sertakan link sumber untuk Menghargai Karya cipta orangnya .

Minggu, 16 Februari 2020

MAKALAH PENGENDALIAN PERSEDIAAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena persediaan fisik banyak perusahaan melibatkan investasi rupiah terbesar dalam pos aktiva lancer. Bila perusahaan menanamkan terlalu banyak dananya dalam persediaan, menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan, dan mungkin mempunyai “opportunity cost” yang lebih besar. Demikian pula, bila perusahaan tidak mempunyai persediaan yang mencukupi dapat mengakibatkan biaya – biaya yang dibutuhkan kurang sehingga terjadinya kekurangan bahan.

Persediaan adalah segala sesuatu/sumber-sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan  dari sekumpulan produk phisikal pada berbagai tahap proses transformasi dari bahan mentah ke barang dalam proses, dan kemudian barang jadi.

      Persediaan merupakan salah satu aset yang paling mahal di banyak perusahaan, mencerminkan sebanyak 40% dari total modal yang diinvestasikan. Manajer operasi diseluruh dunia telah lama menyadari bahwa manajemen persediaan yang baik itu sangatlah penting. Di satu pihak, suatu perusahaan dapat mengurangi biaya dengan cara menurunkan tingkat persediaan di tangan. Di pihak lain, konsumen akan merasa tidak puas bila suatu produk stoknya habis. Oleh karena itu, perusahaan harus mencapai keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat pelayanan konsumen.

      Semua organisasi mempunyai beberapa jenis sistem perencanaan dan pengendalian persediaan. Dalam hal produk-produk fisik, organisasi harus menentukan apakah akan membeli atau membuat sendiri produk mereka. Setelah hal ini ditetapkan, langkah berikutnya adalah meramalkan permintaan. Kemudian manajer operasi menetapkan persediaan yang diperlukan untuk melayani permintaan tersebut.



 BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pengendalian Persediaan
Dalam suatu perusahaan pasti terdapat yang namanya persediaan (stock). Persediaan (stock) itu sendiri merupakan barang-barang atau sumber daya yang disimpan di dalam gudang yang akan digunakan di kemudian hari oleh perusahaan dalam proses penjualan ke pihak konsumen. Persediaan yang ada dapat berupa barang mentah, barang setengah jadi, maupun barang jadi. Persediaan atau stok yang terdapat di gudang tetap harus diperhatikan dan dikendalikan meskipun disimpan dan belum akan digunakan. Hal tersebut dinamakan pengendalian persediaan (stock control).

Pengendalian persediaan (stock control) adalah usaha yang dilakukan oleh perusahaan dalam penyediaan barang-barang yang dibutuhkan untuk proses produksi agar terpenuhi secara optimal sehingga proses produksi berjalan dengan lancar dan mengurangi adanya resiko yang akan terjadi seperti kekurangan barang serta perusahaan dapat memperoleh biaya persediaan sekecil-kecilnya yang akan menguntungkan perusahaan.

Pengendalian persediaan harus dilakukan dengan seimbang. Jika persediaan terlalu besar (over stock) maka beban-beban biaya untuk menyimpan dan menjaga persediaan di dalam gudang akan tinggi sehingga hal ini akan menyebabkan pemborosan. Sebaliknya, jika persediaan terlalu kecil atau dapat dikatakan kurangnya persediaan (out of stock) maka waktu pengiriman barang yang telah disepakati bersama antara perusahaan dengan konsumen akan menjadi terhambat. Keterlambatan waktu pengiriman akan membuat konsumen beralih ke perusahaan lain dalam melakukan pembelian barang.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengendalian persediaan dalam perusahaan manufaktur adalah kapan pemesanan barang harus kembali dilakukan, berapa banyak barang yang harus dipesan, dan berapa rata-rata nilai persediaan yang harus dijaga atau disimpan dalam gudang. Penerapan pengendalian persediaan dalam suatu perusahaan dilakukan agar diperoleh jumlah yang tepat dan kualitas yang baik dari barang-barang yang tersedia dalam gudang pada waktu yang dibutuhkan yaitu saat barang akan dikeluarkan dari dalam gudang dengan biaya yang dikeluarkan minimum sehingga perusahaan memperoleh untung.

Singkatnya pengendalian persediaan merupakan usaha-usaha penyediaan bahan-bahan yang diperlukan untuk proses produksi sehingga dapat berjalan lancar tidak terjadi kekurangan bahan serta dapat diperoleh biaya persediaan yang sekecil-kecilnya.


B.     Manfaat ,Tujuan dan Fungsi  Pengendalian Persediaan

  Manfaat pengendalian persediaan di pelajari
Pengendalian persediaan perlu dipelajari karena dengan pengendalian persediaan kita dapat mempelajari bagaimana seharusnya membuat rencana, baik itu rencana dari segi biaya maupun waktu suatu barang disedialan sampai barang tersebut diproduksi.

  Manfaat dan Tujuan
             Pada dasarnya pengendalian persediaan dimanfaatkan  untuk membantu kelancaran proses produksi, melayani kebutuhan perusahaan akan bahan-bahan atau barang jadi dari waktu ke waktu  Serta perusahaan bisa menentukan jumlah persediaan yang optimal dengan mengeluarkan biaya yang sangat rendah namun bisa memenuhi kebutuhan.

Adapun manfaat persediaan bagi perusahaan adalah :

1.      Memenuhi kebutuhan pelanggan dengan sebaik-baiknya sesuai permintaan pasar pada saat itu Dengan adanya persediaan, maka jika terjadi permintaan yang berlebih dari para pelanggan, maka perusahaan dapat menutupi permintaan tersebut dengan persediaan yang tersedia digudang, sehingga para pelanggan akan merasa dihargai karena kita selalu memenuhi permintaan yang mereka butuhkan, sehingga kita dapat membuat mereka loyal pada perusahaan kita.
2.    Meminimalkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan. Dengan adanya persediaan yang mencukupi, apabila ada permintaan yang berfluaktuasi dari para konsumen, perusahaan masih tetap dapat melakukan operasi sebagaimana biasanya, karena persediaanya yang ada digudang masih bisa digunakan walau barang-barang yang untuk melakukan operasi mengalami keterlambatan, sehingga dengan adanya persediaan tidak akan menganggu jalannya operasi.

3.   Mengontrol stok persediaan digudang dengan baik. Sebaiknya persediaan juga harus memperhatikan permintaan pasar. Ini diperlukan agar tidak terjadi persediaan berlebihan pada barang yang kurang diminati oleh pelanggan.

4.    Mempertahankan stabilitas atau kelancaran kegiatan operasi perusahaan. Dengan adanya persediaan yang mencukupi, maka apabila ada masalah dengan proses pengiriman bahan dari supplier dengan perusahaan, maka dengan adanya persediaan ini dapat mempertahankan stabilitas dan kelancaran proses operasi perusahaan, sehingga perusahaan masih dapat memenuhi permintaan pasar.


Adapun tujuan pengendalian persediaan adalah : 

a. Pemasaran ingin melayani konsumen secepat mungkin sehingga menginginkan persediaan tersedia dalam jumlah yang banyak (safety stock).

b. Produksi ingin beroperasi secara efisien, hal ini mengimplikasikan order produksi yang tinggi akan menghasilkan persediaan yang besar (untuk mengurangi setup mesin). Di samping itu juga produk menginginkan persediaan bahan baku, setengah jadi atau komponen yang cukup sehingga proses produksi tidak terganggu karena kekurangan bahan.

c. Pembelian (purchasing), dalam rangka efisiensi, juga menginginkan persamaan produksi yang besar dalam jumlah sedikit daripada pesanan yang kecil dalam jumlah yang banyak. Pembelian juga ingin ada persediaan sebagai pembatas kenaikan harga dan kekurangan produk.

d. Keuangan (finance) menginginkan minimisasi semua bentuk investasi persediaan karena biaya investasi dan efek negatif yang terjadi pada perhitungan pengembalian aset (return of asset) perusahaan.

e. Personalia (personel and industrial relationship) menginginkan adanya persediaan untuk mengantisipasi fluktuasi kebutuhan tenaga kerja.

f. Rekayasa (engineering) menginginkan persediaan minimal untuk mengantisipasi jika terjadi perubahan rekayasa/engineering.



  Fungsi
Fungsi utama pengendalian persediaan adalah ”menyimpan” untuk melayani kebutuhan perusahaan akan bahan mentah atau barang jadi dari waktu ke waktu.

Adapun fungsi pengendalian persediaan, yaitu:
1.      Memastikan persediaan tersedia (safety stock).
2.      Mengurangi resiko keterlambatan dalam pengiriman persediaan.
3.      Mengurangi resiko harga yang fluktutif.
4.      Memperoleh diskon dari pemesanan dalam jumlah yang banyak.
5.      Menyesuaikan pembelian dengan jadwal produksi.
6.      Mengantisipasi perubahan yang terjadi pada penawaran maupun permintaan.
7.      Mengantisipasi permintaan mendadak.
8.      Menjaga jumlah persediaan yang hanya terdedia musiman, sehingga ketika bahan sedang                     tidak musim perusahaan masih memiliki persediaan barang tersebut.
9.      Mengawasi pesanan persediaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, bisa dikembalikan                       ke supplier jika tidak cocok.
10.  Menjaga komitmen terhadap customer agar barang bisa diproduksi dengan waktu dan                          kualitas yang diminta.
11.  Menentukan kualitas persediaan yang harus disimpan untuk berjaga-jaga.

Fungsi tersebut diatas ditentukan oleh berbagai kondisi seperti :

1.  Apabila jangka waktu pengiriman bahan mentah relatif lama maka perusahaan perlu persediaan bahan mentah yang cukup untuk memenuh kebutuhan perusahan selama jangka waktu pengiriman.

2. Seringkali jumlah yang dibeli atau diproduksi lebih besar dari yang dibutuhkan.

3. Apabila pemintaan barang hanya sifatnya musiman sedangkan tingkat produksi setiap saat adalah konstan maka perusahaan dapat melayani permintaan tersebut dengan membuat tingkat persediaannya berfluktuasi mengikuti fluktuasi permintaan.

4. Selain untuk memenuhi permintaan langganan, persediaan juga diperlukan apabila biaya untuk mencari barang atau bahan pengganti atau biaya kehabisan barang atau bahan relatif besar.


Fungsi persediaan menurut Freddy Rangkuty (2004) ada 3, yaitu sebagi berikut:

1. Fungsi Decoupling adalah persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan tanpa tergantung pada supplier.

2. Fungsi Economic Lot Sizing, persediaan ini perlu mempertimbangkan penghematan atau potongan pembelian, biaya pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan sebagainya.

3. Fungsi Antisipasi, apabila perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan diramalkan berdasarkan pengalaman atau data –data masa lalu yaitu permintaaan musiman.



C.  Mempelajari Pengendalian Persediaan
siapa yang mempelajari pengendalian persediaan? Terkait hal yang mempelajari pengendalian persediaan, menurut kelompok kami yang mempelajari adalah semua orang, karena setiap unit usaha baik itu perusahaan maupun unit usaha yang bergerak di berbagai bidang sangat perlu mempelajari pengendalian persediaan, agar setiap pengeluaran biaya untuk persediaan dapat diminimalkan sehingga pendapatan unit usaha tersebut dapat meningkat dari segi laba. Hal tersebut juga supaya persediaan yang akan disediakan untuk kebutuhan produksi selanjutnya tidak mengalami kelebihan persediaan yang dapat menyebabkan kerugian pada unit usaha/ perusahaan tersebut.

D.    Profesi Pengendalian Persediaan
profesi daripada pengendalian persediaan adalah:

1.    ⧫  Menjadi seorang managemen persediaan

Ada beberapa tugas utama dari managemen persediaan, yaitu:
a.       Memastikan persediaan barang cukup
b.      Efisiensi biaya persediaan
c.       Memastikan persediaan diperlakukan dengan optimal
2.      Mahasiswa

Tugas dari mahasiswa menurut pengendalian persediaan, yaitu:
a.       Memanagemen  waktu
b.      Memanagemen keuangan

E.     Model- Model Pengendalian Persediaan
Model- model dari  pengendalian persediaan ada beberapa, yaitu:

1.      Model Persediaan Deterministik

Dalam persediaan deterministik untuk menentukan kebijaksanaan persediaan yang optimum, dibutuhkan informasi mengenai parameter-parameter berikut :
a. Perkiraan kebutuhan
b. Biaya-biaya persediaan
c. Lead time
Dalam model persediaan deterministik parameter-parameter yang berpengaruh terhadap sistem persediaan dapat diketahui dengan pasti. Rata-rata kebutuhan dari biaya-biaya persediaan diasumsi diketahui dengan pasti. Lamanya lead time juga diasumsikan selalu tetap. Karena semua parameter bersifat deterministik maka tidak dimungkinkan adanya kekurangan persediaan.
Dalam dunia nyata, akan sangat jarang ditemukan situasi dimana seluruh parameter dapat diketahui dengan pasti. Karena itu, akan lebih masuk akal jika digunakan model-model probabilistik yang mempertimbangkan ketidakpastian pada parameter-parameternya. Namun, model deterministik terkadang merupakan pendekatan yang sangat baik, atau paling tidak merupakan langkah awal yang baik untuk menggambarkan fenomena persediaan.
Salah satu model yang sangat popular di dalam sistem deterministik adalah model Economic Order Quantity (EOQ). Model EOQ  ini merupakan dasar dari berbagai pengembangan metode-metode persediaan.

2. Model Persediaan Probabilistik

Permasalahan dalam persediaan probabilistik adalah adanya permintaan barang tiap harinya tidak diketahui sebelumnya, informasi yang diketahui hanya berupa pola permintaannya yang diperoleh berdasarkan data masa lalu.
Pada model-model persediaan deterministik, diasumsikan bahwasannya semua parameter persediaan selalu konstan dan diketahui secara pasti. Pada kenyataannya, sering terjadi parameter-parameter yang ada merupakan nilai-nilai yang tidak pasti, dan sifatnya hanya estimasi atau perkiraan saja.
Parameter-parameter seperti permintaan, lead time, biaya penyimpanan, biaya pemesanan, biaya kekurangan persediaan dan harga, kenyataannya sering bervariasi. Model-model deterministik tidak peka terhadap perubahan-perubahan parameter tersebut. Untuk menghadapi variasi yang ada, terutama variasi permintaan dan lead time, model probabilistik biasanya dicirikan dengan adanya persediaan pengaman (safety stock). 
Dalam sistem pengendalian persediaan bersifat probabilistik, terdapat 2 metode Order Point Policy (OPP) yaitu :

             A. Metode Q
Pada metode ini persediaan dengan jumlah pemesanan tetap dan jarak waktu pemesanan selalu berubah-ubah. Pada metode ini pemesanan kembali dilakukan pada saat dimana persediaan mencapai suatu titik pemesanan kembali (reorder point) dengan memperhitungkan kebutuhan yang berfluktuasi selama waktu ancang-ancang (lead time), persediaan untuk meredam fluktuasi selama lead time disebut persediaan keamanan (safety stock).
Beberapa yang perlu diperhatikan pada model Q adalah :
a. Lot Order Economic adalah jumlah pembelian yang ekonomis untuk dilaksanakan pada setiap kali pesan.
b. Persediaan keamanan (safety stock) adalah sejumlah bahan sebagai persediaan cadangan jika perusahaan berproduksi melebihi rencaha yang telah ditetapkan.
c. Waktu ancang-ancang (lead time) adalah waktu yang dibutuhkan untuk memesan bahan sampai bahan tersebut tiba.
d. Pemakaian atau kebutuhan setiap hari.

Ciri-ciri pengendalian persediaan dengan metode Q adalah :
a. Jumlah barang yang dipesan untuk setiap pemesanan adalah sama.
b. Pemesanan kembali dilakukan apabila persediaan telah mencapai titik pemesanan kembali.
c. Besarnya reorder point sama dengan jumlah pemakaian selama waktu ancang-ancang ditambah dengan persediaan keamanan.
d. Interval waktu antara pemesanan tidak sama, tergantung pada jumlah barang persediaan.



             B. Metode P
Pada metode ini sistem persediaan dengan jarak waktu pemesanan tetap, sedangkan jumah bahan yang dipesan selalu berubah-ubah. Dengan demikian pemesanan dilakukan pada waktu tertentu dimana jarak waktu antara dua pesanan selalu tetap. Persediaan keamanan lebih besar dari sistem Q karena persediaan tersebut juga diperlukan untuk seluruh konsumsi persediaan.
Ciri-ciri pengendalian persediaan dengan metode P adalah :
a. Jumlah barang yang dipesan tidak tetap tergantung pada jumlah persediaan di gudang.
b. Interval waktu pemesanan tetap.
c. Jumlah yang dipesan sama dengan persediaan maksimum dikurangi dengan persediaan yang ada di gudang, kemudian ditambah dengan permintaan yang diharapkan selama waktu ancang-ancang.
d. Persediaan keamanan dilakukan untuk menghadapi fluktuasi kebutuhan dalam masa pemesanan.

3. Model Persediaan Stokastik

a. Reorder Point Model (Q,r)
Pada sistem ini berdasarkan kebijaksanaan jumlah atau ukuran pemesanan (order) yang tetap dan periode waktu yang berbeda-beda. Prosedur utama dari sistem ini adalah kapan saja persediaan turun sampai titik pemesanan kembali (reorder point), maka sebuah pemesanan secara otomatis ditempatkan dengan jumlah atau ukuran yang tetap.
Jadi masalah pokok pengendalian persediaan dengan Reorder Point Model adalah bagaimana menentukan titik pemesanan kembali dan menentukan jumlah atau ukuran persediaan (Q) yang optimal. Penentuan titik pemesanan kembali (reorder point) mencakup penentuan persediaan pengamannya (safety stock).
b. Periodic Review Model (R, T)
Sistem pengendalian ini merupakan sistem pengendalian persediaan yang didasarkan kebijaksanaan periode waktu pemesanan yang tetap tetapi dengan jumlah atau ukuran pemesanan yang bervariasi, yang dihitung dengan mengurangi secara langsung jumlah persediaan yang ada dari jumlah persediaan sebelumnya yang telah ditentukan atau dengan perkataan lain sejumlah pesanan akan ditempatkan untuk membawa posisi persediaan atau sejumlah persediaan sampai ke posisi R yang telah ditentukan.

Jadi masalah pokok pada sistem ini adalah bagaimana menentukan periode atau jangka waktu antar pemesanan yang optimal dan menentukan berapa jumlah persediaan yang diinginkan pada awal siklus (R) yang optimal. 

F.     Aplikasi dan Metode Pengendalian Persediaan

Bahan yang tersedia dalam menjamin kelancaran proses produksi dan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan adalah seminimal mungkin, maka tindakan atau pengaplikasian yang perlu dilakukan adalah menentukan Economic Order Quantity (EOQ), Safety Stock (SS), Reorder Point (ROP), Average Inventory Level, Order Quantity, dan Total Cost (TC).
    
     1.      Menentukan jumlah bahan baku yang ekonomis (EOQ) 
Setiap perusahaan industri, dalam usahanya untuk melakukan proses produksinya yaitu dengan melakukan pembelian. Dalam melakukan pembelian bahan baku yang harus dibeli untuk memenuhi kebutuhan selama satu periode tertentu agar perusahaan tidak kekurangan bahan baku dan juga bisa mendapatkan bahan tersebut dengan biaya seminimal mungkin.
Biaya-biaya yang timbul sehubungan dengan adanya pembelian dan persediaan bahan baku (carrying cost dan ordering cost) setelah dihitung maka dapat ditentukan jumlah pembelian yang optimal atau disebut EOQ, yaitu jumlah kuantitas bahan yang dapat diperoleh dengan biaya minimal atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal.
Pembelian dalam jumlah yang optimal ini untuk mencari berapa jumlah yang tepat untuk dibeli dalam setiap kali pembelian untuk menutup kebutuhan yang tepat ini, maka akan menghasilkan total biaya persediaan yang paling minimal. 
Perbaikan produktivitas sehubungan dengan persediaan bahan terletak pada upaya penurunan biaya yang timbul karena persediaan. Biaya yang timbul karena persediaan terdiri dari :
a.  Biaya pengadaan (ordering cost)
b. Biaya penyimpanan (carrying cost) per unit. 
c. Biaya kehilangan, kerusakan dan biaya alternatif. 
Kuantitas pesanan (order quantity) atau EOQ dapat diperoleh dengan menggunakan rumus :

Dimana :
D = Jumlah kebutuhan bahan (unit / tahun)
Q = Besar order pada setiap pemesanan dari vendor
A = Biaya pengadaan / pemesanan
H = Biaya penyimpanan
i = Bunga uang (% / tahun)
P = Harga perolehan item

Contoh :
Total penjualan selama 1 tahun adalah 100.000 unit. By. Simpan adalah Rp 20,00 per unit persediaan. Biaya pesan adalah Rp 10.000,00 per pesan. Dengan informasi tsb, berapa Q* (persediaan optimal) ?
Jawab :
Q* = [ (2x10.000x100.000)/20]1/2
      = 10.000 unit
       Tingkat persediaan yang optimal adalah 10.000 unit. Dengan kata lain, perusahan memesan 100.000 unit setiap kali pesan.

       Total  biaya persediaan (TC)  = Total by. Simpan + Total by.Pesan
        TC = [(10.000/2)x20]+[(100.000/10.000)x10.000]
                    = 100.000 + 100.000
                    = Rp 200.000,00

     Perusahaan memesan persediaan sebanyak 10 kali dalam satu tahun. Persediaan rata-rata adalah 5.000 unit. Dalam 1 tahun ada 10 kali siklus persediaan.

       Periode perputaran persediaan = asumsi 1 tahun=360 hari.
       360 hari/10 kali=36 hari
        Tingkat konsumsi persediaan (tingkat penjualan) adalah 10.000/36 = 278 unit per hari.


       2.       Menentukan safety stock (persediaan pengaman) 
Suatu perusahaan industri perlu mempunyai jumlah bahan baku yang selalu tersedia dalam perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya. Persediaan bahan baku ini biasa disebut persediaan pengaman atau safety stock. Persediaan pengaman adalah merupakan suatu persediaan yang dicadangankan sebagai pengaman dari kelangsungan proses produksi perusahaan. 
Persediaan pengaman diperlukan karena dalam kenyataannya jumlah bahan baku yang diperlukan untuk proses produksi tidak selalu tepat seperti yang direncanakan. 
Dengan ditentukannya EOQ, sebenarnya masih ada kemungkinan adanya out of stock di dalam proses produksi. Kemungkinan stock out akan timbul apabila penggunaan bahan dasar dalam proses produksi lebih besar dari pada yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini akan berakibat persediaan akan habis diproduksi sebelum pembelian atau pemesanan yang berikutnya datang, sehingga terjadilah out of stock.
Safety Stock diformulasikan dengan rumus :

Dimana :
SS = Safety Stock
Z = Safety Factor
d = Standar deviasi
L = Lead Time

      3.       Menentukan Reorder Point (ROP) 
Reorder point adalah titik dimana harus dilakukan pemesanan ulang. Besarnya ROP dihitung dengan menambahkan jumlah persediaan pengaman dengan jumlah pemakaian selama lead time.

      
      4.       Menghitung Average Inventory Level (Rata-rata tingkat persediaan)
Dalam manajemen persediaan rata-rata level inventory merupakan salah satu parameter yang penting dan sering digunakan. Rata-rata tingkat persediaan dapat diformulasikan dengan :



      5.       Menghitung Total Inventory Cost (TC)
TC = Total Biaya Pengadaan + Total Biaya Penyimpanan + Total Biaya Alternatif



       6.      Peramalan
Peramalan adalah  proses untuk memperkirakan kebutuhan di masa datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun jasa.
Peramalan akan semakin baik jika mengandung sedikit mungkin kesalahan, oleh karena itu perlu dipilih metode peramalan yang terbaik yang sesuai dengan pola data yang ada dari suatu perusahaan tertentu yang bergerak dalam bidangnya.
Secara garis besar metode peramalan dibagi dua yaitu
    
 🌼  Metode Peramalan Kualitatif
      Metode ini menggunakan keputusan manajerial, pengalaman data yang relevan dan model                   matematis yang implisit. Metode ini digunakan untuk peramalan jangka menengah dan                         panjang yang melibatkan disain proses atau kepasitas suatu fasilitas.
       Ada empat metode kualitatif yang paling baik dan paling sering digunakan, yaitu : Metode                    Delphi, Survei Pasar, Analogi Daur Hidup, dan Keputusan yang diinformasikan. 

🌼       Metode Peramalan Kuantitatif
   Peramalan kuantitatif menggunakan berbagai model matematis atau statistik yang                                 menggunakan data historis dan variabel-variabel kausal untuk meramalkan permintaan.
  Faktor utama yang mempengaruhi pemilihan teknik peramalan adalah identifikasi dan                         pemahaman pola histeris data. Pola data yang dimiliki perusahaan, dapat saja menunjukkan                   macam-macam pola data, seperti terlihat pada gambar berikut ini :



                                           Gambar  Pola Historis Sekumpulan Data

Metode peramalan yang dipilih pada penelitian ini adalah dari kelompok metode peramalan yang berdasarkan deret waktu (time series forecasting methods). Metode Time Series adalah metode statistik yang menggunakan data permintaan historis dihimpun pada suatu periode waktu. Dengan asumsi bahwa apa yang terjadi di masa lalu akan terjadi di masa yang akan datang. 

3.      Metode Moving Average (MA)

Moving average diperoleh dengan merata-rata permintaan berdasarkan beberapa data masa lalu yang terbaru. Tujuan utama dari penggunaan metode ini adalah untuk mengurangi atau menghilangkan variasi acak permintaan dalam hubungannya dengan waktu.
Tujuan ini dicapai dengan merata-rata beberapa nilai data secara bersama-sama, dan menggunakan nilai rata-rata tersebut sebagai ramalan permintaan untuk periode yang akan datang. Secara matematis, maka MA akan dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut :

Dimana :
Xt      =   Permintaan aktual pada periode t
N       =   Banyaknya data permintaan yang dilibatkan dalam permitungan MA
Ft       =   Peramalan permintaan pada periode t

4.      Metode Double Moving Average (DMA)
Suatu cara peramalan data deret waktu dengan trend linier adalah dengan menggunakan rata-rata bergerak ganda.
Persamaan yang dipakai dalam implementasi Double Moving Average adalah :


5.      Metode Weighted Moving Average (WMA)
Pada metode WMA, setiap data permintaan aktual memiliki bobot yang berbeda. Data yang lebih baru akan mempunyai bobot yang tinggi karena data tersebut mempresentasikan kondisi yang terakhir terjadi.
Secara matematis WMA dapat dinyatakan sebagai berikut :
\

Dimana :
Wt     =   Bobot permintaan aktual pada periode t dengan keterbatasan ∑W=1
Xt      =   Permintaan aktual pada periode t

6.      Metode Single Exponential Smoothing (SES)
Kelemahan teknik MA dalam kebutuhan akan data-data masa lalu yang cukup banyak dapat diatasi dengan teknik SES. Model ini mengasumsikan bahwa data berfluktuasi di sekitar nilai mean yang tetap, tanpa trend atau pola pertumbuhan konsisten.Rumus SES dinyatakan sebagai berikut :

Dimana :
St              =   Peramalan untuk periode t
Xt+(1-α)   =   Nilai aktual time series
Ft-1            =   Peramalan pada waktu t-1 (waktu sebelumnya)
α               =   Konstanta perataan antara 0 dan 1

7.      Metode Double Exponential Smoothing (Brown’s One Parameter Linier)
Dengan cara analogi yang dapat dipakai pada waktu memulai dari rata-rata bergerak tunggal ke pemulusan (smoothing) exponensial tunggal dapat juga memulai dari rata-rata bergerak ganda ke pemulusan exponensial ganda.
Persamaan yang dipakai dalam implementasi pemulusan eksponensial linier satu parameter dari Brown adalah :

Dimana :




m = jumlah periode ke depan yang diramalkan

8.      Ukuran Akurasi Hasil Peramalan
Ukuran akurasi hasil peramalan merupakan ukuran kesalahan peramalan yaitu tingkat perbedaan antara hasil peramalan dengan permintaan yang sebenarnya terjadi.
Ada 4 ukuran yang biasa digunakan yaitu :

a. Mean Absolute Deviation (MAD)

Dimana :
Xt              =      Permintaan aktual pada periode t
Ft            =      Peramalan permintaan pada periode t
n             =       Jumlah periode peramalan yang terlibat

b. Mean Square Error (MSE)



c. Mean Forecast Error (MFE)

d. Mean Absolute Percentage Error (MAPE)



Akurasi peramalan akan semakin tinggi apabila nilai-nilai MAD, MSE, MFE, dan MAPE semakin kecil.













BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

      Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan yang harus di jaga, kapan persediaan harus diisi, dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat, dalam kuantitas yang tepat dan pada waktu yang tepat.atau dengan kata lain, sistem dan model persediaan bertujuan untuk meminimumkan biaya total melalui penentuan apa, berapa dan kapan pesanan di lakukan secara optimal.

B.     Saran


    Pengendalian persediaan merupakan salah satu topik yang sangat terkait dengan tujuan                        manajemen operasi, yaitu meminimalkan total biaya dan meningkatkan service level. Mengapa            demikian? karena dengan mengelola persediaan dengan tepat perusahaan akan meraih keduanya          sekaligus. Jika rata-rata level persediaan dapat diturunkan maka secara tidak langsung salah satu        komponen biaya produksi dapat ditekan, yang berujung pada peningkatan margin keuntungan.           Satu aspek lainnya yang dapat dicapai dengan pengelolaan persediaan yang tepat adalah service         level kepada pelanggan meningkat, atau minimal tidak turun.